Laporan Praktikum Hortikultura: Tanaman Sayuran Sistem Hidroponik

Daftar Isi

TUJUAN PRAKTIKUM

  1. Membuat larutan hidroponik.
  2. Membuat wadah hidroponik.
  3. Melakukan penanaman dan pemeliharaan tanaman hidroponik.


DASAR TEORI

    Menggunakan tanah sebagai lahan pertanian merupakan hal yang umum dilakukan oleh para petani. Namun selain tanah, lahan budidaya tanaman dapat pula berupa media lain, contohnya air seperti yang dilakukan dalam sistem hidroponik (Roidah, 2014). Hidroponik merupakan salah satu cara bercocok tanam yang memanfaatkan air sebagai media nutrisi yang akan langsung diserap oleh tanaman sebagai penunjang tumbuh tanaman sehingga dapat menjadi cara bercocok tanam alternatif di kota (Rakhman et al., 2015). Media tanam yang digunakan dalam hidroponik tidak mengandung nutrisi yang dibutuhkan oleh tanaman. Oleh karenanya penambahan nutrisi mutlak dilakukan untuk budidaya tanaman sistem hidroponik, baik unsur hara esensial makro maupun mikro (Wahyuningsih et al., 2016). Suplai nutrisi yang baik menyebabkan laju pertumbuhan tanaman hidroponik bisa mencapai 50% lebih cepat dibanding tanaman yang ditanam di tanah pada kondisi yang sama. Hal ini dikarenakan energi yang diperlukan untuk pertumbuhan akar lebih sedikit sehingga sisa energi bisa disalurkan ke bagian lain dari tanaman (Juhriah et al., 2020)

    Jenis hidroponik dapat dibedakan dari media yang digunakan untuk berdiri tegaknya tanaman. Media tersebut biasanya bebas dari unsur hara (steril), sementara itu pasokan unsur hara yang dibutuhkan tanaman dialirkan ke dalam media tersebut melalui pipa atau disiramkan secara manual. Media tanam tersebut dapat berupa kerikil, pasir, gabus, arang, zeolite, atau tanpa media agregat (hanya air). Yang paling penting media tanam tersebut harus bersih dari hama sehingga tidak menumbuhkan jamur atau agen penyakit lainnya (Roidah, 2014).

    Budidaya hidroponik biasanya dilaksanakan di dalam rumah kaca (greenhouse) untuk menjaga tanaman tumbuh secara optimal dan benar-benar terlindung dari pengaruh unsur luar seperti hujan, hama penyakit, iklim, dan lain-lain (Roidah, 2014). Melalui teknik  budidaya  secara  hidroponik, hasil produk pertanian menjadi lebih baik dari segi kualitas maupun kuantitas, serangan hama dan penyakit leih rendah, kontrol nutrisi pada tanaman lebih mudah dilakukan, bebas pestisida, penggunaan air dan pupuk sangat efisien, tidak bergantung musim, dapat dilakukan di lahan yang sempit (Wahyuningsih, 2016), seragam, serta dapat dilakukan secara kontinyu (Suharto et al., 2016). Walaupun demikian, sistem hidroponik memiliki kelemahan, yakni investasi awal yang mahal, memerlukan keterampilan khusus untuk menimbang dan meramu bahan kimia, serta ketersediaan dan pemeliharaan perangkat hidroponik agak sulit (Roidah, 2014).

    Tanaman yang sering ditanam sistem hidroponik adalah tanaman sayur karena batang sayur-sayuran tidak terlalu besar dan berat. Sayuran merupakan sumber makanan yang menyediakan nutrisi lengkap untuk kepentingan tubuh. Selain memberi manfaat produktif, tanaman hidroponik juga bisa diletakkan di teras untuk untuk hiasan karena secara visual terlihat indah (Wahyuningsih et al., 2016)



METODE PRAKTIKUM

A. Alat dan Bahan

    Alat-alat yang digunakan dalam praktikum meliputi instalasi pipa hidroponik, netpot, pisau, dan nampan. Sedangkan bahan-bahan yang digunakan meliputi benih tanaman (kangkung Ipomoea reptans, sawi hijau Brassica rapa var. parachinensis L., selada merah Lactuca sativa var. acephala, Sawi pagoda Brassica juncea L., bayam merah Amaranthus tricolor, dan pakcoy Brassica rapa L.), rockwool, air, tusuk gigi, kain flanel, nutrisi hidroponik, dan batu penyangga.

 

B. Prosedur Kerja

  1. Rockwool dipotong dengan ukuran ±2×2×2 cm atau lebih kecil, ditata di atas nampan plastik lalu dibasahi air.
  2. Dibuat lubang pada rockwool menggunakan tusuk gigi lalu dimasukkan tiap benih tanaman.
  3. Nampan berisi rockwool disimpan di tempat yang tidak terkena sinar matahari langsung sampai benih berkecambah.
  4. Nampan berisi benih yang telah berkecambang dipindahkan ke tempat yang terkena sinar matahari langsung.
  5. Setelah berdaun sekitar 3-4 lembar, dimasukkan ke dalam netpot yang telah diberi sumbu dari kain flanel.
  6. Netpot diisi dengan batu-batu kecil untuk menyangga tanaman agar berdiri tegak.
  7. Netpot ditempatkan pada instalasi hidroponik.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

    Percobaan hidroponik dilakukan dengan menanam benih kangkung Ipomoea reptans, sawi hijau Brassica rapa var. parachinensis L., selada merah Lactuca sativa var. acephala, Sawi pagoda Brassica juncea L., bayam merah Amaranthus tricolor, dan pakcoy Brassica rapa L. Mula-mula benih disemaikan menggunakan rockwool. Untuk mendukung proses perkecambahan benih, benih diletakkan di ruang gelap (tanpa paparan sinar matahari langsung). Berdasarkan hasil penelitian Washa (2015), biji yang dibiarkan berkecambang di ruang gelap dapat mendukung atau mempercepat proses perkecambahan. Hal ini dikarenakan cahaya dapat mengurai gas asam karbonat, melepas oksigen dan mengikat karbon sehingga menghambat fase vegetatif (Neff et al., 2009). Kecambah yang telah tumbuh kemudian dipindahkan ke dalam netpot dan ditempatkan di instalasi hidroponik berupa pipa paralon. Lokasi instalasi hidroponik ini terpapar oleh cahaya. Pemindahan ini harus segera dilakukan karena menurut Qurrohman (2019), semaian yang terhambat terkena sinar matahari menyebabkan bibit mengalami etiolasi.

    Bentuk pemeliharaan yang dilakukan adalah dengan menjaga ketersediaan air dan nutrisi bagi tanaman hidroponik. Dalam proses pemeliharaan yang dilakukan, masing-masing satu tanaman sawi hijau dan bayam merah mengalami kematian. Hal ini disebabkan oleh kesalahan praktikan yakni sempat lalai dalam menjaga kadar air dan nutrisi sehingga tanaman tersebut menjadi layu. Namun selain kedua tanaman tersebut, tanaman lainnya dapat tumbuh dengan baik. Walau demikian, kegiatan pemeliharaan tidak dapat dilanjutkan begitupun pemanenan akibat terkendala situasi pandemi.

 

DAFTAR PUSTAKA

Juhriah, Masniawati A., dan Tambaru, E., 2020. Penuntun Praktikum Hortikultura. Universitas Hasanuddin, Makassar.


Neff, M.M., Sanderson, L., dan Tedor, D., 2009. Light-Mediated Germination in Lettuce Seeds: Resurrection of a Classic Plant Physiology Lab Exercise. The American Biology Teacher, 71(6), pp.367-370.


Qurrohman, B.F.T., 2019. Bertanam Selada Hidroponik: Konsep dan Aplikasi. Pusat Penelitian dan Penerbitan UIN SGD, Bandung.


Rakhman, A., Lanya, B., Rosadi, R.A.B., dan Kadir, M.Z., 2015. Pertumbuhan Tanaman Sawi Menggunakan Sistem Hidroponik dan Akuaponik. Jurnal Teknik Pertanian Lampung, 4(4), pp.245-254.


Roidah, I.S., 2014. Pemanfaatan Lahan dengan Menggunakan Sistem Hidroponik. Jurnal Universital Tulungagung BONOROWO, 1(2), pp.43-50.


Suharto, Y.B., Suhardiyanto, H., dan Susilo, A.D., 2016. Pengembangan Sistem Hidroponik untuk Budidaya Tanaman Kentang. Jurnal Keteknikan Pertanian, 4(2), pp.211-218.


Wahyuningsih, A., Fajriani, S., dan Aini, N., 2016. Komposisi Nutrisi dan Media Tanam terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Pakcoy (Brassica rapa L.) Sistem Hidroponik. Jurnal Produksi Tanaman, 4(8), pp.595-601.


Washa, W.B., 2015. Potential of the Dark as a Factor Affecting Seed Germination. International Journal of Science and Technology, 5(2), pp.28-36.

 


Tidak untuk disalin! 
Artikel ini dibagikan untuk memberi contoh dan menginspirasi:)

0 Comment:

Post a Comment

/>