Laporan Praktikum Biokimia Dasar: Pengaruh pH dan Suhu terhadap Aktivitas Enzim Amilase

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
    Kehidupan tidak akan mungkin terjadi tanpa enzim (enzyme) yang sebagian besar diantaranya merupakan protein. Protein-protein enzimatik meregulasi metabolisme dengan cara bekerja sebagai katalis, yakni agen kimia yang secara selektif mempercepat reaksi kimia tanpa ikut bereaksi (Campbell dkk., 2010). Di antara banyak enzim yang banyak digunakan adalah α-amilase. Hal ini dikarenakan enzim α-amilase memiliki peranan penting dalam hidrolisis pati dan pengaplikasian dari kemampuan hidrolitik tersebut. Aktivitas enzim dapat ditentukan dengan mengukur gula pereduksi yang dilepaskan sebagai hasil dari kerja enzim α-amilase pada pati (Sundarram dan Murthy, 2014).
    Kemampuan mengkatalisis suatu reaksi berhubungan dengan struktur tersier dari molekul protein tersebut. pH dan suhu merupakan faktor lingkungan utama yang dapat memengaruhi struktur protein yang dimana hal ini juga akan memengaruhi aktifitas enzim (Iswari danYuniastuti, 2006). Enzim berfungsi secara optimal pada suhu dan pH tertentu, sehingga penyimpangan-penyimpangan dari keadaan optimum mengakibatkan berkurangnya aktivitas enzim dengan nyata. Hal ini khas bagi semua enzim. Keragaman pH yang ekstrim bahkan dapat merusak enzim, seperti juga suhu yang tinggi dimana pendidihan selama beberapa menit akan mendenaturasikan kebanyakan enzim (Soeka, 2010). Berdasarkan uraian tersebut, dilakukan pengujian enzim amilase terhadap pengaruh kenaikan pH dan temperatur untuk mengetahui pH dan suhu optimum enzim amilase.
1.2 Maksud dan Tujuan Percobaan
1.2.1 Maksud Percobaan
    Maksud dalam percobaan ini adalah untuk mempelajari dan mengetahui pengaruh pH dan temperatur terhadap aktivitas enzim amilase.
1.2.2 Tujuan Percobaan
  1. Menentukan pH optimum untuk aktivitas enzim amilase.
  2. Menentukan temperatur optimum untuk aktivitas enzim amilase.
1.3 Prinsip Percobaan
1.3.1 Pengaruh pH terhadap Aktivitas Enzim Amilase
    Prinsip dari percobaan ini adalah menentukan aktivitas enzim amilase berdasarkan waktu penguraian pati menjadi glukosa pada berbagai pH tertentu dengan penambahan iodin sebagai indikator yang memberi warna biru dan akan berubah menjadi bening.
1.3.2 Pengaruh Temperatur terhadap Aktivitas Enzim Amilase
    Prinsip dari percobaan ini adalah menentukan aktivitas enzim amilase berdasarkan waktu penguraian pati menjadi glukosa pada berbagai temperatur kemudian diuji dengan iodin pada interval waktu tertentu hingga warna biru yang terbentuk berubah menjadi bening.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

1.1 Enzim Amilase
    Enzim merupakan protein dengan fungsi katalitik yang sangat spesifik dan diproduksi oleh semua organisme hidup. Enzim bertanggungjawab untuk berbagai reaksi biokimia dalam mikroorganisme, tumbuhan, hewan dan manusia. Sama halnya dengan protein, enzim terdiri dari rantai panjang asam amino yang dihubungkan oleh ikatan peptida, namun memiliki fungsi yang berbeda di mana enzim memiliki kemampuan yang unik, yakni dapat memfasilitasi reaksi biokimia tanpa mengalami perubahan bagi enzim itu sendiri (Christy dan Kavitha, 2014).
    Amilase secara luas terdistribusi dalam tubuh mikroba, tumbuhan dan animalia. Enzim ini mendegradasi pati dan polimer terkait untuk menghasilkan produk yang memiliki karakteristik dari enzim amilolitik individu (Saini dkk., 2017). Dalam bioremediasi, enzim ini digunakan untuk memproses pati yang mengandung limbah. Selain itu, amilase juga digunakan untuk memisahkan serat dari kulit pada bidang industri (Singh dkk., 2012).
    Hidrolisis dari pati dikatalisis oleh enzim amilase yang terkandung dalam saliva maupun yang dihasilkan oleh kelenjar pankreas. Enzim ini mengkatalisis hidrolisis dari ikatan glikosidik α(1→4), menghasilkan dekstrin, campuran glukosa, maltosa, maltotriose dan percabangan kecil dekstrin (Murray dkk., 2009). Digesti bermula di dalam mulut, di mana α-amilase dari saliva menghidrolisis ikatan glikosidik internal dari pati dan menghasilkan fragmen pendek polisakarida atau oligosakarida. Di dalam perut, aktivitas α-amilase dari saliva akan dinonaktifkan oleh kondisi pH yang rendah namun bentuk kedua dari α-amilase yang disekresi oleh pankreas akan melanjutkan proses pemutusan (Nelson dan Cox, 2017).

2.2 Faktor-Faktor yang Memengaruhi Kerja Enzim
    Banyak senyawa seperti etanol, pati, asam amino, asam sitrat dan bahan kimia lainnya yang disintesis menggunakan reaksi katalis enzim. Dalam proses katalis tersebut, stabilitas suhu, pH dan kondisi termal yang beragam sangat diperlukan (Kulkarni, 2016). Adapun pengaruh faktor-faktor tersebut terhadap enzim adalah sebagai berikut:
1. suhu
    Setiap enzim memiliki suhu optimal, yaitu saat laju reaksinya paling cepat. Peningkatan suhu optimal membuat aktivitas enzim juga naik karena memungkinkan terjadinya tumbukan molekul yang paling banyak dan perubahan reaktan menjadi produk yang paling cepat (Nurkhotimah dkk., 2017). Suhu mempengaruhi aktivitas dan stabilitas operasi, makin besar aktivitas enzim, akan menurunkan stabilitasnya (Risnoyatiningsih, 2011). Sedangkan pada suhu yang terlalu rendah, kestabilan enzim tinggi tetapi aktivitasnya berjalan dalam laju rendah (Djarkasi dkk., 2017). Menurut Nelson dan Cox (2017), suhu optimum untuk enzim adalah pada kisaran 25-58 °C. Sementara dari penelitian yang telah dilakukan oleh Supriyatna dkk. (2015), enzim amilase mencapai suhu optimum untuk menghidrolisis substrat pada suhu 40 °C.
2. pH
    Perubahan pH dapat menyebabkan berhentinya aktivitas enzim akibat adanya proses denaturasi pada struktur tiga dimensi enzim. Di luar pH optimum, kenaikan pH (basa) atau penurunan pH (asam) menyebabkan penurunan aktivitas enzim dengan cepat dan bahkan bisa kehilangan aktivitas katalitiknya. Hal ini terjadi karena struktur tiga dimensi yang dimiliki enzim mulai berubah, sehingga substrat tidak dapat berikatan dengan sisi aktif enzim. Akibat dari tidak terbentuknya ikatan substrat dengan enzim adalah proses katalis yang tidak dapat berlangsung secara sempurna (Nurkhotimah dkk., 2017). Menurut Murray dkk (2009), sebagian besar enzim intraselular bekerja optimal pada pH antara 5-9.
3. konsentrasi substrat
    Pada konsentrasi substrat yang rendah, sisi aktif tempat terjadinya kontak antara enzim dan substrat hanya akan menampung substrat yang sedikit. Dalam kondisi ini konsentrasi kompleks enzim-substrat sedikit dan menyebabkan aktivitas enzim yang terjadi kecil. Bila konsentrasi substrat diperbesar, maka semakin banyak substrat yang dapat berhubungan dengan enzim pada sisi aktif tersebut. Akibatnya kompleks enzim-substrat semakin besar dan aktivitas enzim juga semakin besar (Bahri dkk., 2012).

2.3 Saliva
    Ingesti dan tahap-tahap awal digesti terjadi di dalam rongga mulut (oral cavity). Sementara digesti mekanis berlangsung, keberadaan makanan dalam rongga mulut merangsang refleks saraf yang menyebabkan kelenjar ludah (salivary gland) mengeluarkan ludah (saliva) melalui saluran ke dalam rongga mulut. Saliva juga dapat dikeluarkan sebelum makanan memasuki mulut, yakni oleh karena dipicu oleh aroma masakan atau rangsangan yang lain (Campbell dkk., 2010). Saliva pada manusia mengandung suatu enzim yang disebut sebagai α-amilase yang di mana enzim ini dapat menghidrolisis ikatan glikosidik α-1,4 dalam amilosa maupun amilopektin (Walker dan McMahon, 2008).
    Saliva mengawali digesti kimiawi sekaligus melindungi rongga mulut. Amilase, enzim yang terdapat di dalam saliva, menghidrolisis pati (polimer glukosa dari tumbuhan) dan glikogen (polimer glukosa dari hewan) menjadi polisakarida yang lebih kecil dan disakarida maltosa. Musin (mucin), glikoprotein licin dalam saliva, melindungi lapisan mulut dari abrasi sekaligus melumasi makanan agar lebih mudah ditelan. Komponen tambahan saliva mencakup bufer yang membantu mencegah kerusakan gigi dengan menentralisir asam dan agen-agen antibakteri (seperti lisozim) serta melindungi dari mikroorganisme-mikroorganisme yang memasuki mulut bersama makanan (Campbell dkk., 2010).

2.4 Hidrolisis
    Enzim amilase merupakan enzim yang mampu mengkatalis proses hidrolisa pati untuk menghasilkan molekul lebih sederhana seperti glukosa, maltosa dan dekstrin. Proses hidrolisa pati tersebut dilakukan melalui tiga tahapan yaitu gelatinisasi, likuifikasi, dan sakarifikasi (Nangin dan Sutrisno, 2015). Semakin besar waktu hidrolisa pati menjadi glukosa, maka semakin meningkat kadar glukosanya. Hal ini disebabkan karena waktu kontak antara enzim dan pati sangat lama, dengan menjaga pH dan suhu pada kondisi yang terbaik agar enzim tidak rusak dan dapat melakukan aktivitasnya dengan baik (Risnoyatiningsih, 2011)
    Polimer dipecah menjadi monomer-monomer melalui tahapan hidrolisis. Hidrolisis berarti memutus dengan menggunakan air (dari kata Yunani hydro yang berarti air dan lysis yang berarti putus). Ikatan di antara monomer-monomer diputus oleh penambahan molekul air dengan satu hidrogen (H) dari air melekat pada salah satu monomer, sedangkan gugus hidroksil air melekat pada monomer yang berada di sebelahnya (Campbell dkk., 2010)

BAB III
METODE PERCOBAAN

3.1 Bahan Percobaan
    Bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah larutan pati 1 %, saliva, iodin 0,01 M, aquades, es batu, larutan buffer fosfat pH 7,8; 7,0; 6,4; 6,0; 5,8, NaCl 0,1 M, asam asetat 0,1 M, iodin 0,01 M, akuades, tisu, dan kertas label.
3.2 Alat Percobaan
    Alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah tabung reaksi, rak tabung reaksi, inkubator, pipet tetes, pipet skala, stopwatch, gelas ukur 10 mL, plat tetes, hotplate, batang pengaduk, dan gegep.
3.3 Prosedur Percobaan
3.3.1 Pengaruh pH terhadap Aktivitas Enzim
    Tabung reaksi sebanyak 5 buah disiapkan dan dipipet 2,5 mL larutan buffer dengan pH 7,8; 7,0; 6,4; 6,0; dan 5,8 ke dalam masing-masing tabung reaksi. Ditambahkan 0,5 mL pati 1 % dan 0,5 mL NaCl 0,1 M. Khusus untuk tabung dengan pH 7,8 dan 7,0, ditambahkan 1 mL asam asetat. Selanjutnya dimasukkan 0,5 mL iodin ke dalam masing-masing tabung dan 5 tetes saliva encer dengan pH 6,4, 6,0 dan 5,8. Tabung reaksi kemudian dimasukkan ke dalam inkubator dengan suhu 38 °C dan diamati perubahan warna selama 30 menit dengan interval waktu 5 menit.
3.3.2 Pengaruh Suhu terhadap Enzim Amilase
    4 buah tabung reaksi disiapkan dan diisi 2,5 mL pati 1 % serta 5 tetes saliva encer. Tabung I dimasukkan ke dalam wadah yang berisi air es (0 °C), tabung II pada suhu ruangan (25 °C), tabung III di dalam inkubator (37 °C) dan tabung IV di dalam air mendidih (100 °C). Semua tabung dibiarkan selama 30 menit. Pada interval waktu 5 menit, diambil masing-masing larutan sebanyak 3 tetes dan diteteskan pada plat tetes. Tiap larutan kemudian diberi 1 tetes iodin. Diamati perubahan warna yang terjadi.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan
4.1.1 Pengaruh pH terhadap Aktivitas Enzim Amilase
            Tabel 1. Pengamatan perubahan warna terhadap pH
Waktu
(menit)
Warna
pH 7,8
pH 7,0
pH 6,4
pH 6,0
pH 5,8
5
++++
++++
+++++
+++++
+++++
10
++++
++++
+++++
+++++
+++++
15
++++
++++
+++++
+++++
++++
20
+++
+++
++++
++++
+++
25
++
++
++++
++++
+++
30
++
++
++++
++++
+++

Keterangan:
+++++ = Biru pekat 
++++   = Biru tua 
+++     = Biru
++       = Biru muda
+         = Putih kebiruan

            Tabel 2. Laju perubahan warna terhadap pH
pH
Waktu (menit)
1/t (det-1)
7,8
20
0,05
7,0
20
0,05
6,4
20
0,05
6,0
20
0,05
5,8
15
0,0667


4.1.2 Pengaruh Temperatur terhadap Aktivitas Enzim α-Amilase
            Tabel 3.
Pengamatan perubahan warna terhadap temperatur
Waktu
(menit)
Warna
Tabung 1
(0 °C)
Tabung 2
(25 °C)
Tabung 3
(37 °C)
Tabung 4
(100 °C)
0
+++
+++
+
++
5
+++
+++
+
+
10
++
++
+
+
15
++++
++
+++
++
20
++
+++
+++
+++
25
++
++
+++
++++
30
++++
+++
++++
+++++

Keterangan:
+++++ = Biru pekat 
++++   = Biru tua 
+++     = Biru
++       = Biru muda
 +        = Putih kebiruan

            Tabel 4. Laju perubahan warna terhadap temperatur
Temperatur (oC)
Waktu (menit)
1/t (det-1)
0
20
0,05
25
30
0,03
37
15
0,06
100
25
0,04


4.2 Reaksi

4.3 Pembahasan
4.3.1 Pengaruh pH terhadap Aktivitas Enzim Amilase
    Percobaan ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh pH terhadap aktivtas enzim amilase sekaligus menentukan pH optimumnya. Dalam percobaan, enzim diperoleh dari saliva sedangkan yang bertindak sebagai substrat adalah pati. Delapan tabung reaksi yang telah disediakan diisi dengan larutan buffer fosfat dengan pH masing-masing 7,8; 7,0; 6,4; 6,0 dan 5,8. Pemberian beberapa pH yang berbeda bertujuan untuk mengetahui pH optimum dari enzim amilase sehingga dapat bekerja dengan baik. Selanjutnya ke dalam tabung reaksi ditambahkan pati (amilum) dan larutan NaCl 0,1 M. Tujuan penambahan NaCl adalah sebagai penyuplai Cl yang merupakan aktivator enzim amilase. Kemudian ditambahkan saliva yang telah diencerkan dengan fp 10× ke dalam tabung reaksi. Saliva yang merupakan enzim amilase akan menghidrolisis pati menjadi molekul glukosa secara enzimatis.
    Pada tabung reaksi yang berisi larutan buffer dengan pH 7,8 dan pH 7,0 ditambahkan asam asetat (CH3COOH) dengan tujuan untuk mengasamkan larutan tersebut karena enzim tidak dapat bekerja pada pH basa. Selanjutnya ke dalam tabung-tabung ini ditambahkan larutan iodin sebagai indikator yang akan bereaksi dengan amilum membentuk kompleks biru yang ditandai dengan perubahan warna dari bening menjadi biru. Kemudian, tabung-tabung yang berisi larutan tersebut ditempatkan ke dalam inkubator bersuhu 37 °C selama 30 menit dengan interval waktu pengamatan adalah setiap 5 menit.
    Berdasarkan hasil pengamatan, ditinjau dari aktivitasnya, dapat dilihat bahwa pH dengan perubahan yang signifikan ada pada pH 7,8 dan 7,0 di mana pada menit terakhir, diperoleh perubahan warna menjadi warna biru muda. Sementara jika ditinjau tabung yang paling cepat mengalami perubahan warna adalah tabung pH 5,8 di mana perubahan warna terjadi pada menit ke-15 sementara pH 6,0, 6,4, 7,0 dan 7,8 baru mengalami perubahan pada menit ke-20. Setelah data dimasukkan ke dalam grafik, tampak bahwa titik optimum berada pada pH 5,8, dengan hal ini menunjukkan pH tersebut merupakan pH optimum bagi aktivitas enzim. Menurut Murray dkk (2009), sebagian besar enzim intraselular bekerja optimal pada pH antara 5-9, yang dalam hal ini enzim amilase bekerja optimal pada pH 5,8, dengan demikian hasil pengamatan telah sesuai dengan teori.
4.3.2 Pengaruh Temperatur terhadap Aktivitas Enzim Amilase
    Percobaan ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh temperatur terhadap keaktifan suatu enzim sekaligus menentukan suhu optimum dari suatu enzim amilase. Dalam prosedur percobaan, 4 tabung reaksi disiapkan dan diisi dengan larutan pati 1 %. Masing-masing tabung reaksi kemudian ditetesi dengan 5 tetes saliva encer. Tabung pertama dicelupkan ke dalam air es, tabung kedua dibiarkan pada temperatur ruangan, tabung ketiga dimasukkan ke dalam inkubator bersuhu 37 °C dan tabung keempat dimasukkan ke dalam air mendidih (100 °C). Perlakuan ini dilakukan pada berbagai suhu yang telah ditentukan masing-masing agar dapat diketahui pada suhu berapa (suhu optimum) enzim amilase dapat bekerja dengan baik. Setiap 5 menit, larutan diuji pada plat tetes dengan penambahan 1 tetes iodin 0,01 M, hingga mencapai menit ke-30. Data dimasukkan ke dalam tabel dan dibuat dalam bentuk grafik.
    Tabel menunjukkan perubahan warna yang tidak stabil untuk tabung I (0 °C), II (25 °C) dan IV (100 °C) di mana warna yang semula biru menjadi terang kemudian menjadi lebih gelap kembali. Sementara untuk tabung III (37 °C), larutan yang semula berwarna putih kebiruan berubah menjadi biru tua berdasarkan pengamatan pada menit terakhir. Hal tersebut menyimpang dari teori di mana pada suhu sesuai, seharusnya didapatkan perubahan warna menjadi lebih terang akibat adanya aktivitas enzim amilase yang mengubah pati sehingga tidak tampak lagi kompleks biru yang dihasilkan oleh ikatan iodin dan pati. Selain itu, menurut Nurkhotimah dkk (2017), peningkatan suhu optimal membuat aktivitas enzim juga naik karena memungkinkan terjadinya tumbukan molekul yang paling banyak dan perubahan reaktan menjadi produk yang paling cepat. Risnoyatiningsih (2011), juga menyatakan bahwa suhu mempengaruhi aktivitas dan stabilitas operasi, makin besar aktivitas enzim, akan menurunkan stabilitasnya. Sedangkan pada suhu yang terlalu rendah, kestabilan enzim akan menjadi tinggi tetapi aktivitasnya berjalan dalam laju rendah (Djarkasi dkk., 2017).
    Adapun kesalahan data dapat disebabkan karena praktikan yang tidak jeli dalam mengidentifikasi warna. Selain itu, diduga bahwa perubahan warna menjadi lebih biru dapat disebabkan karena larutan yang belum homogen sebelum ditempatkan di suhu yang berbeda. Diketahui bahwa pemanasan dapat menyebabkan suatu larutan menjadi homogen sehingga pati yang tadinya belum larut dengan baik, baru akan larut setelah pemanasan dan akhirnya membentuk kompleks biru bersama dengan iodin.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
  1. Enzim amilase dapat bekerja dengan baik pada pH optimum, yakni pada pH 5,8.
  2. Enzim amilase dapat bekerja dengan baik pada temperatur optimum, yakni pada temperatur 37 °C, namun dalam praktikum terjadi human error sehingga diperoleh penyimpangan teori.
5.2 Saran
5.2.1 Saran untuk Praktikan
    Ketelitian dalam melakukan praktikum sangat diperlukan agar mencegah terjadinya penyimpangan.
5.2.2 Saran untuk Laboratorium
    Sebaiknya dapat diadakan perbaikan untuk beberapa westafel yang tidak berfungsi.

DAFTAR PUSTAKA


Bahri, S., Mirzan, M., dan Hasan, M., 2012, Karakterisasi Enzim Amilase dari Kecambah Biji Jagung Ketan (Zea mays ceratina L.), Jurnal Natural Science, 1(1):132-143.

Campbell, N.A., Reece, J.B., Urry, L.A., Cain, M.L., Wasserman, S.A., Minorsky, P.V., dan Jackson, R.B., 2010, Biologi, Jilid 1, Edisi 8, Terjemahan oleh Damaring Tyas Wulandari, Erlangga, Jakarta.

Campbell, N.A., Reece, J.B., Urry, L.A., Cain, M.L., Wasserman, S.A., Minorsky, P.V., dan Jackson, R.B., 2010, Biologi, Jilid 3, Edisi 8, Terjemahan oleh Damaring Tyas Wulandari, Erlangga, Jakarta.

Christy, M.P.B., dan Kavitha, S., 2014, Research Article: Role of Enziymes, International Journal of Recent Scientific Research, 5(6):1181-1183.

Djarkasi, G.S.S., Raharjo, S., dan Noor, Z., 2017, Isolasi dan Aktivitas Spesifik Enzim Lipase Indigenous Biji Kenari, 8(1):28-35.

Iswari, R.S., dan Yuniastuti, A., 2006, Biokimia, Graha Ilmu, Yogyakarta.

Kulkarni, S.J., 2016, Enzyme Immobilization: Research and Studies, International Journal of Research and Review, 3(7):31-35.

Murray, R.K., Bender, D.A., Botham, K.M., Kennelly, P.J., Rodwell, V.W., dan Weil, P.A., 2009, Harper’s Illustrated Biochemistry, 28th Edition, The McGraw-Hill Companies, Inc., New York.

Nangin, D., dan Sutrisno, A., 2015, Enzim Amilase Pemecah Pati Mentah dari Mikroba: Kajian Pustaka, Jurnal Pangan dan Agroindustri, 3(3):1032-1039.

Nelson, D.L., dan Cox, M.M., 2017, Lehninger Principles of Biochemistry: International Edition, 7th Edition, W.H. Freeman, New York.

Nurkhotimah, 2017, Pengaruh Suhu dan pH terhadap Aktivitas Enzim Fosfatase Bakteri Termofilik Sungai Gendol Pasca Erupsi Merapi, Jurnal Prodi Biologi, 6(8):465-471.

Risnoyatiningsih, S., 2011, Hidrolisis Pati Ubi Jalar Kuning Menjadi Glukosa secara Enzimatis, Jurnal Teknik Kimia, 5(2):417-424.

Saini, R., Saini, H.S., dan Dahiya, A., 2017, Amylases: Characteristics and Industrial Applications, Journal of Pharmacognosy and Phytochemistry, 6(4):1865-1871.

Singh, R., Mittal, A., Kumar, M., dan Mehta P.K., 2016, Amylases: A Note on Current Applications, International Reearch Journal of Biological Sciences, 5(11):27-32.

Soeka, Y.S., 2010, Optimasi dan Karakterisasi α-Amilase dari Isolat Aktinomisetes yang Berasal dari Kalimantan Timur, Berita Biologi, 10(3):361-367.

Sundarram, A., dan Murthy, T.P.K., 2014, α-Amilase Production and Applications, Journal of Applied & Enviromental Microbiology, 2(4):166-175.

Supriyatna, A., Amalia, D., Jauhari, A.A., dan Holydaziah, D., 2015, Aktivitas Enzim Amilase, Lipase dan Protease dari Larva, Jurnal ISTEK, 9(2):18-32.

Walker, S., dan McMahon, D., 2008, Biochemistry Demystified: A Self-Teaching Guide, The McGraw-Hill Companies, Inc., New York.




Tidak untuk disalin! 
Artikel ini dibagikan untuk memberi contoh dan menginspirasi:)

0 Comment:

Post a Comment

/>