Laporan Praktikum Mikrobiologi Umum: Teknik Dasar, Alat, dan Instrumen Laboratorium Mikrobiologi

Daftar Isi

TUJUAN PRAKTIKUM

  1. Mengetahui teknik dasar sterilisasi alat
  2. Mengetahui teknik dasar bekerja secara aseptis
  3. Mengetahui teknik dasar penggunaan mikroskop

DASAR TEORI

Pada dasarnya semua peralatan, bahan-bahan kimia, serta larutan-larutan yang akan digunakan harus dalam kondisi steril. Oleh karena itu, segala jenis peralatan yang akan dipergunakan dalam suatu pekerjaan laboratorium molekuler perlu disterilisasi terlebih dahulu (Maftuchah, dkk., 2014). Proses sterilisasi dalam bidang mikrobiologi merupakan suatu upaya atau metode yang bertujuan untuk membebaskan alat atau bahan dari kontaminasi berbagai macam bentuk kehidupan organisme (Saputera, dkk., 2018). Bentuk kehidupan organisme yang dimaksud meliputi bakteri, jamur, virus, dan organisme bersel satu lainnya (Darwis, 2006).
Sterilisasi itu penting dilakukan dalam praktikum mikrobiologi. Hal ini dikarenakan kehadiran mikroorganisme lain pada bahan atau alat yang digunakan dapat mengganggu atau merusak media maupun kehidupan dan proses yang sedang dikerjakan sehingga pelaksanaan praktikum atau penelitian tidak dapat berjalan dengan lancar. Secara umum terdapat 2 teknik yang biasa digunakan dalam proses sterilisasi. Teknik yang digunakan tersebut didasarkan pada sifat alat dan bahan yang akan disterilisasi (Saputera, dkk., 2018):
  1. Sterilisasi mekanik/filtrasi, yakni dikerjakan dalam suhu ruangan dan menggunakan suatu saringan yang berpori sangat kecil (0,22 Âµ atau 0,45 Âµ) sehingga mikroba tertahan pada saringan tersebut. Sterilisasi ini ditujukan untuk mikroorganisme yang peka terhadap panas, misalnya larutan enzim dan antibiotik.
  2. Sterilisasi fisik, yakni digunakan dengan cara pemanasan atau penyinaran. Terdapat 4 macam sterilisasi dengan pemanasan, yakni pemijaran api, panas kering, uap panas, dan uap panas bertekanan.
Sterilisasi dapat dicapai dengan cara pemanasan lembap, pemanasan kering, filtrasi, penyinaran, atau bahan kimia. Semakin tinggi tingkat kontaminasi mikroorganisme pada suatu alat ataupun bahan, maka jumlah spora semakin banyak yang termos resisten sehingga diperlukan waktu pemanasan yang lebih lama. Sterilisasi panas kering membutuhkan pemaparan pada suhu 100 °C sampai 180 °C selama 60 menit (Saputera, dkk., 2018).
Bekerja secara aseptis merupakan prosedur pengerjaan dengan mengondisikan lingkungan bebas dari kontaminasi mikroba selama proses pengerjaan di laboratorium dan selama proses kultur mikroba. Keterampilan dasar dalam menumbuhkan mikroba pada berbagai media sangat penting diketahui terutama membuat kondisi lingkungan tetap aseptis.  Transfer mikroba secara aseptis  dari suatu media kultur ke media kultur lain baru dikatakan berhasil jika tidak ditemukan bakteri kontaminan yang mencemari media selama proses inokulasi. Prosedur umum meliputi pembersihan laboratorium dari debu dan sampah serta menggunakan desinfektan untuk membunuh mikroorganisme yang mungkin ada. Selain itu, seperti yang telah disebutkan sebelumnya, pensterilan alat dan bahan sebelum digunakan adalah penting sebagai usaha bekerja secara aseptis (Dwyana, 2019).

a. Alat Gelas

Alat gelas adalah peralatan laboratorium yang terbuat dari kaca (glass) sehingga disebut sebagai alat gelas. Umumnya digunakan karena sifat kaca yang inert, transparan, dan tahan panas.
1. Cawan petri
petri dish
Cawan petri
Fungsi: Digunakan sebagai wadah untuk pertumbuhan kultur mikroba.
Cara sterilisasi: Metode udara kering, yakni dengan menggunakan oven pada suhu 180 °C selama 2 jam.

2. Tabung reaksi sedang
medium reaction tube
Tabung reaksi sedang
Fungsi: Digunakan sebagai wadah larutan cair dan tempat menumbuhkan mikroba pada media cair.
Cara sterilisasi: Mulut tabung dilidah apikan untuk mematikan mikroba lain yang ada pada mulut tabung.

3. Tabung reaksi kecil
small reaction tube
Tabung reaksi kecil
Fungsi: Digunakan sebagai media larutan dan tempat untuk menumbuhkan mikroba pada media cair.
Cara sterilisasi: Mulut tabung dilidah apikan utuk mematikan mikroba lain yang ada pada mulut tabung.

4. Tabung Durham
Durham tube
Tabung Durham
Fungsi: Digunakan untuk mendeteksi produksi gas oleh mikroba.
Cara sterilisasi: Dicuci menggunakan air dan sabun.

5. Erlenmeyer
Erlenmeyer
Fungsi: Digunakan sebagai wadah untuk menampung larutan, bahan cairan, atau kultivasi mikroba di dalam media cair.
Cara sterilisasi: Metode panas basah >100 °C, yakni menggunakan otoklaf suhu 121 °C selama 15 menit dengan tekanan 2 atm.

6. Botol Winkler
Winkler bottle
Botol Winkler
Fungsi: Digunakan dalam pengambilan sampel air sekaligus untuk analisis air.
Cara sterilisasi: Dicuci menggunakan air dan sabun.

7. Object dan deck glass
object glass, deck glass
Object dan deck glass
Fungsi: Object glass digunakan sebagai wadah diletakkannya objek yang akan diamati. Sementara itu, deck glass digunakan untuk menutup objek preparat, menjaga letak spesimen, dan menjaga sampel cair agar memiliki ketebalan merata.
Cara sterilisasi: Dicuci menggunakan air dan sabun.

8. Batang L
cell spreader
Batang L
Fungsi: Digunakan untuk meratakan cairan di permukaan media agar bakteri yang tersuspensi
Cara sterilisasi: Pemanasan atau dicuci menggunakan air sabun.

9. Batang V
Batang V
Fungsi: Digunakan dalam pembuatan slide culture.
Cara sterilisasi: Pemanasan atau dicuci menggunakan air dan sabun

10. Batang pengaduk
stirrer
Batang pengaduk
Fungsi: Digunakan untuk mengaduk larutan agar homogen atau agar zat padat cepat larut.
Cara sterilisasi: Pemanasan atau dicuci menggunakan air dan sabun.

11. Gelas kimia
beaker glass
Gelas kimia
Fungsi: Digunakan sebagai wadah untuk menampung cairan atau larutan kimia.
Cara sterilisasi: Dicuci menggunakan air dan sabun atau menggunakan otoklaf.

12. Gelas ukur
graduated cylinder
Gelas ukur
Fungsi: Digunakan untuk mengukur volume suatu cairan atau larutan.
Cara sterilisasi: Dicuci menggunakan air dan sabun.

13. Pipet ukur
graduated pipette
Pipet ukur
Fungsi: Digunakan untuk memindahkan/mengeluarkan cairan atau larutan kimia dalam jumlah terukur.
Cara sterilisasi: Dicuci menggunakan air dan sabun.

14. Pipet tetes
dropper
Pipet tetes
Fungsi: Digunakan untuk memindahkan cairan atau larutan dalam jumlah kecil dari tetes demi tetes.
Cara sterilisasi: Dicuci menggunakan air dan sabun.

15. Bunsen
burner
Bunsen
Fungsi: Digunakan untuk sterilisasi alat.
Cara sterilisasi: Dicuci menggunakan air dan sabun.

16. Ose bulat
Ose bulat
Fungsi: Digunakan untuk memindahkan mikroba dengan cara menggores permukaan medium agar.
Cara sterilisasi: Ujung kawat dilidah apikan.

17. Ose lurus
Ose lurus
Fungsi: Digunakan untuk memindahka mikroba dengan metode tusuk.
Cara sterilisasi: Ujung kawat dilidah apikan.

18. Corong
funnel
Corong
Fungsi: Digunakan untuk membantu proses penyaringan.
Cara sterilisasi: Dicuci menggunakan air dan sabun.

19. Enkas
enkast
Enkas
Fungsi: Digunakan sebagai tempat pengerjaan secara aseptis.
Cara sterilisasi: Menggunakan hand sprayer berisi spiritus atau campuran formalin 10% dan alkohol 70% (1:1).

b. Alat Non-gelas

Alat non-gelas adalah peralatan laboratorium yang terbuat dari bahan selain kaca. Biasanya diperlukan sebagai pendukung dalam penggunaan peralatan lain, yakni alat gelas dan instrumen.
1. Mortar dan pestle
Mortar dan pestle
Fungsi: Digunakan untuk menghaluskan bahan yang bersifat padat.
Cara sterilisasi: Dicuci menggunakan air dan sabun.

2. Plat tetes
Plat tetes
Fungsi: Digunakan sebagai wadah zat dalam jumlah kecil.
Cara sterilisasi: Dicuci menggunakan air dan sabun atau menggunakan oven.

3. Rak tabung
Rak tabung
Fungsi: Digunakan untuk meletakkan tabung reaksi.
Cara sterilisasi: Dicuci menggunakan air dan sabun.

4. Botol semprot
Botol semprot
Fungsi: Digunakan untuk menampung akuades.
Cara sterilisasi: Dicuci menggunakan air dan sabun.

5. Pinset
Pinset
Fungsi: Digunakan untuk mengambil sampel berukuran kecil.
Cara sterilisasi: Ujung pinset dipanaskan dengan metode panas membara.

6. Sendok tanduk
Sendok tanduk
Fungsi: Digunakan untuk penakaran bahan medium. Sendok kecil berfungsi untuk mengurangi atau menambahkan bahan dengan takaran yang sedikit sedangkan sendok besar untuk takaran yang lebih besar.
Cara sterilisasi: Dicuci menggunakan air dan sabun.

7. Spuit
syringe
Spuit
Fungsi: Digunakan untuk mengambil larutan atau zat yang akan diuji dalam jumlah tertentu.
Cara sterilisasi: Ujung jarum dipanaskan dengan metode panas membara, alat sekali pakai.

8. Bulb
Bulb
Fungsi: Digunakan untuk menyedot larutan ke dalam pipet ukur/buret dalam jumlah terukur
Cara sterilisasi: Panas basah menggunakan otoklad selama 15 menit dalam tekanan 2 atm.

9. Gegep
Gegep
Fungsi: Digunakan untuk menjepit tabung ketika dipanaskan.
Cara sterilisasi: -

10. Sikat tabung
wire brush
Sikat tabung
Fungsi: Digunakan untuk membersihkan bagian dalam tabung reaksi.
Cara sterilisasi: Dicuci menggunakan air dan sabun.

11. Tabung sentrifus
centrifuge tube
Tabung sentrifus
Fungsi: Digunakan sebagai wadah untuk larutan yang akan dimasukkan ke dalam mesin sentrifus.
Cara sterilisasi: Disterilisasi menggunakan otoklaf.

12. Hand sprayer
Hand sprayer
Fungsi: Digunakan sebagai wadah alkohol dalam penyemprotan untuk sterilisasi.
Cara sterilisasi: Dicuci menggunakan air dan sabun.

13. Cotton swab
Cotton swab
Fungsi: Digunakan untuk mengambil spesimen dengan teknik swab.
Cara sterilisasi: (Alat sekali pakai)

c. Instrumen

Instrumen adalah alat yang digunakan untuk mendapatkan informasi kuantitatif dan kualitatif tentang objek penelitian, dapat pula sebagai alat bantu dalam melakukan penelitian. Disebut sebagai instrumen karena digunakan sebagai alat pendukung untuk mendapatkan hasil penelitian.
1.  Rotary shaker
Rotary shaker
Fungsi: Digunakan untuk meratakan oksigen dan nutrisi pada media cair bagi mikroba.
Prosedur kerja: 
  1. Hubungkan arus listrik.
  2. Tekan tombol POWER.
  3. Masukkan bahan yan akan diinkubasi ke dalam spring rack.
  4. Pilih pengaturan waktu dengan memutar knob TIME.
  5. Putar knob SPEED untuk menentukan kecepatan rotasi.
  6. Tekan START untuk menjalankan proses inkubasi.
Prinsip kerja: Menginkubasi dengan menggunakan putaran.
 
2. Otoklaf
autoklaf, autoclave
Otoklaf
Fungsi: Digunakan untuk mensterilkan alat dan bahan dengan metode panas dalam suhu 121 °C tekanan 2 atm selama 2 jam.
Prosedur kerja: 
  1. Tambahkan air sampai batas yang telah ditentukan.
  2. Masukkan alat dan bahan yang ingin disterilkan.
  3. Tutup otoklaf dengan rapat lalu kencangkan klep pengaman agar tidak ada uap yang keluar dari bibir otoklaf.
  4. Nyalakan otoklaf. Ketika uap memenuhi kompartemen otoklaf dan terdesak keluar dari klep pengaman, kencangkan klep pengaman. Perhitungan waktu 15 menit dimulai sejak tekanan mencapai 2 atm.
  5. Setelah alarm berbunyi, maka tunggu tekanan dalam kompartemen seimbang (jarum pada pressure gauge menunjuk ke angka 0). Buka klep pengaman lalu keluarkan isi otoklaf dengan hati-hati.
Prinsip kerja: Mensterilkan alat dan bahan menggunakan panas dan tekanan dari uap air.

3.  Laminar air flow
Laminar air flow
Fungsi: Digunakan untuk pengerjaan secara aseptik karena memiliki pola pengaturan dan penyaringan aliran udara.
Prosedur kerja: 
  1. Hubungkan arus listrik.
  2. Nyalakan lampu UV, tunggu 20-30 menit sebelum dimatikan.
  3. Buka penutup LAF dengan rendah agar tidak terkontaminasi.
  4. Semprotkan alkohol 70% pada dinding LAF, lalu dilap menggunakan tisu.
  5. Tekan tombol Blower, biarkan udara dari luar masuk melalui filter pertama. Dari filter pertama diteruskan ke HEPA dan HEPA yang akan mengeluarkan udara yang steril.
  6. Hidupkan tombol lampu dan masukkan alat dan bahan.
  7. Pastikan TLV dan Blower sudah dimatikan ketika akan menggunakan LAF.
Prinsip kerja: Mensterilkan menggunakan aliran udara dengan arah laminar.

4. Vortex
Vortex
Fungsi: Digunakan untuk menghomogenkan suspensi atau larutan dalam tabung reaksi atau wadah.
Prosedur kerja: 
  1. Hubungkan arus listrik lalu tekan tombol ON.
  2. Atur kecepatan dengan memutar knob SPEED.
  3. Letakkan tabung sampel pada tempat penggetar sambil ditekan, lakukan sampai homogen.
  4. Setelah selesai putar kembali tombol pengatur getaran ke angka 0.
  5. Matikan dengan menekan tombol OFF.
  6. Cabut stop kontak dari sumber.
Prinsip kerja: Menghomogenkan bahan dengan metode vibrasi.

5. Water bath
Water bath
Fungsi: Digunakan untuk inkubasi mikroba pada suhu konstan serta sebagai alat sterilisasi teknik pasteurisasi.
Prosedur kerja: 
  1. Isi water bath dengan akuades.
  2. Pasang steker lalu masukkan bahan-bahan ke dalam wadah, masukkan wadah ke dalam water bath.
  3. Setelah menutup water bath, tekan tombol ON.
  4. Atur suhu dan waktu.
  5. Setelah selesai tekan tombol OFF dan cabut steker.
Prinsip kerja: Memanaskan bahan menggunakan media air dengan suhu air yang dapat diatur, yakni di bawah 100 °C.

6. Hotplate
Hotplate
Fungsi: Digunakan untuk menghomogenkan suatu larutan dengan mengaduk batang magnetik (yang akan menpercepat proses homogenisasi).
Prosedur kerja: 
  1. Letakkan gelas kimia berisi bahan di atas alas hotplate.
  2. Nyalakan hotplate, atur suhu dan kecepatan pengadukan.
  3. Setelah selesai, pindahkan wadah dan matikan hotplate.
Prinsip kerja: Menghomogenkan larutan dengan memanfaatkan energi listrik yang diubah menjadi energi panas pada pelat baja.

7. Spektrofotometer
spectrofotometer
Spektrofotometer
Fungsi: Digunakan untuk mengetahui jumlah mikroorganisme pada kuvet dengan menggunakan panjang gelombang cahaya tertentu.
Prosedur kerja: 
  1. Nyalakan alat dengan tombol ON, maka lampu indikator akan berwarna merah yang menandakan adanya arus listrik. Biarkan selama 15 menit untuk memanaskan alat.
  2. Pilih panjang gelombang yang akan digunakan dengan cara memutar knob panjang gelombang.
  3. Atur meter ke pembacaan 0% T menggunakan knob pengatur.
  4. Masukkan larutan blanko.
  5. Atur meter ke pembaca 100% T.
  6. Ganti larutan blanko dengan larutan cuplikan dan lihat nilai %T atau absorbansinya.
  7. Matikan alat dengan menekan tombol OFF. 
Prinsip kerja: Sesuai hukum Lambert-Beer: "Bila cahaya monokromatik melalui suatu larutan, maka sebagian cahaya tersebut diserap, sebagian dipantulkan dan sebagian dipancarkan.
Cara kerja: Sinar berasal dari 2 lampu yang berbeda, yaitu lampu wolfram untuk sinar visible (38-780 nm) dan lampu deuterium untuk sinar UV (180-380 nm) pada video lampu yang besar. Pilih panjang gelombang yang satu lagi untuk blanko. Detektor atau pembaca cahaya yang diteruskan oleh sampel akan mengubah data sinar menjadi angka yang akan ditampilkan pada reader. Adapun kuvet berfungsi untuk menghitung mikroba dengan panjang gelombang 580 nm dengan transmitter jumlah suspensi suatu bakteri yang terukur pada panjang gelombang 580 nm.

8. Timbangan digital
digital scale
Timbangan digital
Fungsi: Digunakan untuk mengetahui massa bahan yang akan digunakan dengan tingkat ketelitian yang tinggi.
Prosedur kerja: 
  1. Bersihkan timbangan analitik dari debu atau kotoran sisa bahan sebelumnnya menggunakan kuas.
  2. Tekan tombol ON.
  3. Atur skala menjadi 0.
  4. Letakkan bahan yang akan ditimbang dan catat massa benda.
Prinsip kerja: Menimbang massa dengan penggunaan sumber tegangan stavolt.

9. Inkubator
incubator
Inkubator
Fungsi: Digunakan sebagai tempat penyimpanan hasil kultur mikroba dengan suhu yang terjaga.
Prosedur kerja: 
  1. Hubungkan arus listrik.
  2. Putar tombol POWER.
  3. Atur suhu dalam inkubator dengan menekan tombol SET.
  4. Sambil menekan tombol SET, putar knob suhu lalu lepaskan tombol SET.
  5. Inkubator akan menyesuaikan pengaturan suhu secara otomatis setelah beberapa menit.
Prinsip kerja: Menginkubasi kultur mikroba sesuai suhu yang ditentukan.

10. Oven
Oven
Fungsi: Digunakan untuk mensterilkan alat-alat gelas dengan metode udara kering.
Prosedur kerja: 
  1. Atur tegangan yang diperlukan.
  2. Nyalakan oven dengan memutar knob POWER.
  3. Masukkan alat ke dalam oven.
  4. Atur suhu dan waktu yang diperlukan.
  5. Setelah selesai, keluarkan alat dan matikan oven.
Prinsip kerja: Mensterilkan alat-alat gelas dengan suhu 180 °C dalam waktu 2 jam.
 
11. Kulkas
refrigerator
Kulkas
Fungsi: Digunakan untuk menyimpan kultur atau medium.
Prosedur kerja: 
  1. Hubungkan arus listrik.
  2. Atur suhu kulkas sesuai keperluan.
  3. Masukkan bahan ke dalam rak kulkas.
  4. Tutup pintu kulkas dengan rapat.
Prinsip kerja: Menyimpan bahan atau kultur serta sebagai tempat penyimpanan medium yang akan digunakan pada waktu yang lama.

12. Mikroskop
binoculary microscope
Mikroskop
Fungsi: Digunakan untuk mengamati mikroba yang tak kasat mata dengan perbesaran hingga 1000×.
Prosedur kerja: 
  1. Letakkan mikroskop di atas meja (±4 jari dari tepi meja). Nyalakan sumber cahaya pada mikroskop.
  2. Ambil preparat dan letakkan di atas meja preparat.
  3. Buka penuh diafragma iris dan naikkan kondensor sampai sama tinggi dengan preparat.
  4. Atur lensa objektif hingga terletak 5-6 mm dari preparat.
  5. Atur lensa okuler dan putar pengatur sumber cahaya dengan memutar filter kerapatan netral sehingga frosted lense terpasang pada tempatnya.
  6. Fokuskan preparat di bawah kedua lensa hingga objek preparat terlihat dengan jelas.
  7. Atur fokus preparat dan atur perbesaran lensa yang diinginkan.
  8. Amati preparat yang tampak dari lensa okuler.
Prinsip kerja: Memperbesar bayangan objek mikroskopis dengan menempatkan objek di ruang lensa objektif sehingga terbentuk bayangan yang terbalik dan diperbesar.

13. Sentrifus
centrifuge
Sentrifus
Fungsi: Digunakan untuk memisahkan suatu larutan dengan berat molekul yang berbeda berdasarkan gaya sentrifugal.
Prosedur kerja: 
  1. Hubungkan arus lstrik dan nyalakan sentrifus.
  2. Tekan tombol OPEN untuk membuka tutup mesin.
  3. Masukkan larutan ke dalam tabung sentrifus. Tiap tabung harus memiliki jumlah larutan yang sama.
  4. Letakkan tabung dalam lubang sentrifus dengan posisi seimbang satu sama lain.
  5. Tutup penutup sentrifus dan atur waktu serta kecepatan yang diperlukan.
  6. Tekan tombol ON untuk memulai sentrifugasi.
  7. Setelah selesai, tekan tombol OPEN dan ambil semua larutan dengan urutan berseling.
Prinsip kerja: Memisahkan komponen larutan menggunakan gaya sentrifugal.
Cara kerja: Sentrifus bekerja dengan menggunakan prinsip sedimentasi di mana percepatan sentripetal menyebabkan zat yang lebih padat akan mengendap di dasar tabung. Dengan cara yang sama, benda ringan akan cenderung bergerak ke atas. Gaya sentrifugal yang dihasilkan berasal dari putaran motor listrik yang mendapatkan suplai. Semakin tinggi putaran motor maka semakin besar gaya sentrifugal yang dihasilkan, begitu pula sebaliknya.

DAFTAR PUSTAKA

Darwis, D., 2006, Sterilisasi Produk Kesehatan (Health Care Product) dengan Radiasi Berkas Elektron. Proseding Pertemuan dan Presentasi Ilmiah Teknologi Akselerator dan Aplikasinya, pp.78-86, ISSN 1411-1349.

 

Dwyana, Z., 2019, Penuntun Praktikum Mikrobiologi Umum, Universitas Hasanuddin, Makassar.

 

Maftuchah, A. Winaya, dan A. Zainuddin, 2014, Analisis Biologi Molekuler, Deepublish Publisher, Yogyakarta.

 

Saputra, N., Rif'at, Nurkamalia, Zuraidah, Qamariah, dan R. Hidayatullah, 2018, Rancang Bangun Alat Sterilisasi Kesehatan Berbasis Mart Relat Zelio SR2 B121J0, Prosiding SNRT (Seminar Nasional Riset Terapan), pp.20-34, ISSN 2341-5670.




Tidak untuk disalin! 

Artikel ini dibagikan untuk memberi contoh dan menginspirasi:)

1 comment:

/>