Laporan Praktikum Hortikultura: Sambung Pucuk (Grafting)

Daftar Isi

TUJUAN PRAKTIKUM

  1. Mampu memilih batang bawah dan batang atas yang baik.
  2. Mampu melakukan sambungan yang baik.

DASAR TEORI

    Sambung pucuk (grafting) adalah teknik menyatukan pucuk yang berfungsi sebagai calon batang atas dengan calon batang bawah, sehingga dapat diperoleh batang baru yang memiliki sifat-sifat unggul (Suwandi, 2014). Metode perbanyakan ini umumnya dapat dilakukan pada tanaman yang termasuk dalam satu varietas dan spesies. Peristiwa menyatunya kedua jaringan tanaman yang disambungkan tersebut terjadi oleh adanya sifat jaringan yang kompatibel (Pitojo, 2005).

    Ketika batang atas dan batang bawah dipotong dalam proses grafting, sejumlah sel-sel parenkim mengalami kerusakan dan mati. Sel-sel yang rusak atau mati tersebut membentuk jaringan nekrotik, yang bertindak sebagai lapisan isolasi (isolation layer) dan merupakan reaksi jaringan tanaman untuk menghindari masuknya sumber kontaminan atau infeksi mikroorganisme. Sel-sel lain (sel hidup) yang terdapat di bawah sel nekrotik akan mengalami proses hipertrofi (pembelahan dan pembesaran sel hingga melewati ukuran normal) kemudian disusul dengan proses hiperplasia atau pembelahan sel dalam jumlah banyak hingga membentuk jaringan penutup luka (kalus). Pertumbuhan sel-sel membentuk kalus sangat berperan dalam proses pertautan sambungan dan penyembuhan luka. Kalus mulai terbentuk sejak hari pertama hingga hari ketujuh setelah grafting (Hartmann et al., dalam Supriadi dan Heryana, 2012).

    Menurut Hartmann et al., dalam keberhasilan sambung pucuk dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain daya gabung, hubungan kekerabatan antara batang atas dan batang bawah, dan aktivitas pertumbuhan batang bawah. Selain itu, menurut Errea et al., dalam Savitri dan Afrah (2019), translokasi nutrisi, air, hormon, enzim, dan fotosintesis berjalan dengan baik antara batang atas dan batang bawah membuat tunas sambungan akan tumbuh lebih cepat. Tirtawinata, dalam Tambing dan Hadid (2008) menambahkan bahwa beberapa faktor yang sangat memengaruhi keberhasilan dalam memproduksi bibit dengan metode grafting yaitu: (1) faktor tanaman (genetik, kondisi tumbuh, panjang entris); (2) faktor lingkungan (ketajaman/kesterilan alat, kondisi cuaca, waktu pelaksanaan grafting (pagi, siang, sore hari), dan (3) faktor keterampilan orang yang melakukan grafting.

    Keunggulan dari grafting di antaranya mengekalkan sifat-sifat klon, memperoleh tanaman yang kuat karena batang bawahnya tahan terhadap keadaan tanah yang tidak menguntungkan, temperatur yang rendah, atau gangguan lain yang terdapat dalam tanah, memperbaiki jenis-jenis tanaman yang telah tumbuh sehingga jenis yang tidak diinginkan diubah dengan jenis yang dikehendaki, serta dapat mempercepat berbuahnya tanaman (Suwandi, 2014).

 

METODE PRAKTIKUM

A. Alat dan Bahan

    Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah pisau, sedangkan bahan yang digunakan meliputi batang bawah dan batang atas tanaman bunga kertas Bougainvillea sp. yang bervariasi, tali, dan platik transparan.


B. Prosedur Kerja

  1. Dipilih batang atas dan batang bawah yang kompatibel.
  2. Daun batang  atas dipangkas hingga menyisakan beberapa daun saja di ujung.
  3. Pangkal batang atas dipotong membentuk model baji sedangkan ujung batang bawah dibelah.
  4. Batang atas disisipkan pada ujung batang bawah lalu dililit (arah bawah-atas) dengan menggunakan tali.
  5. Hasil sambung dibungkus menggunakan plastik lalu diikat agar tidak mudah lepas.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

    Sambung pucuk adalah teknik menyatukan pucuk (batang atas) dengan batang bawah sehingga tumbuh menjadi batang baru. Dalam praktikum, sambung pucuk dilakukan terhadap tanaman Bougainvillea sp. dari 2 varietas berbeda. Cara penyambungannya adalah dengan model sambung celah V. Pangkal pucuk dipotong hingga berbentuk baji sementara batang bawah dibelah. Namun, sebelumnya daun dari batang atas dipangkas hingga menyisakan sedikit daun saja. Selanjutnya, batang atas disisipkan ke ujung batang bawah yang telah dibelah lalu diikat menggunakan tali rafia dengan arah bawah-atas. Langkah terakhir adalah dengan membungkus hasil sambungan menggunakan plastik. Tujuan disungkupnya hasil sambung dengan plastik adalah untuk menurunkan suhu, meningkatkan keoptimalan pembentukan tanaman dan mengurangi hama. Savitri dan Afrah (2019) membandingkan peluang keberhasilan sambung pucuk pada tanaman yang disungkup dengan yang tidak disungkup plastik dan didapatkan bahwa keberhasilkan sambung lebih banyak pada tanaman yang disungkup.

    Menurut Sari dan Susilo 2012, lapisan luar dari sel-sel kambium baik pada batang bawah maupun batang atas memproduksi sel-sel parenkim yang akan bertaut. Sel-sel ini disebut jaringan kalus. Dengan terbentuknya jaringan kalus, maka tanaman dapat bertaut secara sempurna. Dengan demikian, hal yang menentukan keberhasilan sambung adalah menyatunya kambium batang atas dan bawah. Dari praktik sambung yang dilakukan, pemotongan pangkal batang atas dan ujung batang bawah yang dilakukan sangatlah pendek sehingga peluang menyatunya kambium kedua klon menjadi lebih kecil. Hal inilah yang diduga menjadi penyebab gagalnya sambungan. Batang atas mengalami layu, ditandai dengan warnanya yang berubah menjadi kuning kecoklatan sebab distribusi nutrisi hasil fotosintesis tidak sampai ke batang atas. Tidak sampainya nutrisi menunjukkan bahwa pembuluh pengangkut kedua klon tidak menyatu akibat kesalahan dalam teknik sambung yang dilakukan.

 

DAFTAR PUSTAKA

Pitojo, S., 2005. Seri Budi Daya: Keluwih. Penerbit Kanisius, Jakarta.

 

Sari, I.A. & Susilo, A.W., 2012. Keberhasilan Sambungan pada Beberapa Jenis Batang Atas dan Famili Batang Bawah Kakao (Theobroma cocoa L.). Pelita Perkebunan, 28(2), pp.72-81.

 

Savitri & Afrah, 2019. Aplikasi Teknik Sambung Pucuk (Top Grafting) untuk Perbanyakan Tanaman Durian (Durio zibethinus murr). Jurnal Agriflora, 3(1), 40-47.

 

Supriadi, H. & Heryana, N., 2012. Kesesuaian Batang Bawah dan Batang Atas pada Grafting Jambu Mete. Buletin RISTRI, 3(2), pp.117-124.

 

Suwandi, 2014. Petunjuk Teknik Perbanyakan Tanaman dengan Cara Sambungan (Grafting). Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan Yogyakarta.

 

Tambing, Y. & Hadid, A., 2008. Keberhasilan Pertautan Sambung Pucuk pada Mangga dengan Waktu Penyambungan dan Panjang Entris Berbeda. Jurnal Agroland, 15(4), pp.296-301.

 



Tidak untuk disalin! 
Artikel ini dibagikan untuk memberi contoh dan menginspirasi:)

0 Comment:

Post a Comment

/>