Laporan Praktikum Hortikultura: Stek Batang dan Stek Daun

Daftar Isi

TUJUAN PRAKTIKUM

  1. Mampu menyiapkan bahan stek yang baik.
  2. Mampu membuat stek.
  3. Mampu melakukan penanaman stek dengan baik.


DASAR TEORI

    Perbanyakan tanaman dapat dilakukan dengan cara generatif dan vegetatif. Perbanyakan tanaman secara generatif biasanya dilakukan melalui biji dan mengalami penyerbukan alami dengan bantuan angin atau serangga. Jika hanya dikembangbiakkan melalui perbanyakan secara generatif, maka tumbuhan yang diharapkan akan lama berbuah dan tidak dapat memenuhi kebutuhan pasar yang semakin lama semakin meningkat jumlah permintaannnya. Alternatif yang dilakukan oleh petani adalah dengan cara perbanyakan tanaman secara vegetatif (Dewi, 2013).

    Stek merupakan salah satu teknik perbanyakan tanaman secara vegetatif buatan. Stek adalah suatu perlakuan pemisahan atau pemotongan beberapa bagian dari tanaman, seperti daun, tunas, batang, dan akar, agar bagian-bagian tersebut membentuk akar atau tanaman baru. Perbanyakan dengan stek bertujuan untuk menanggulangi tanaman-tanaman yang tidak mungkin diperbanyak dengan biji, memudahkan dan mempercepat pembiakan tanaman, serta mempertahan klon unggul (Rukmana, 2000).

Perbanyakan dengan cara stek memiliki beberapa keuntungan sebagai berikut (Rukmana, 2000):

  1. Dapat menghasilkan tanaman yang sempurna, yakni memiliki akar, batang, dan daun dalam waktu yang relatif singkat.
  2. Bersifat serupa dengan induknya.
  3. Dapat menghasilkan jumlah bibit yang lebih banyak dan seragam.

    Di samping itu, terdapat pula beberapa kelemahan dari metode stek, antara lain tanaman hasil perbanyakan cara stek tidak memiliki akar tunggang sehingga kurang kuat pengakarannya (Hariyadi dan Anindito, 2017). Menurut Pradani et al. (2018), kelemahan dari metode ini yaitu pertumbuhan akar yang berbeda untuk masing-masing bagian cabang. Hal ini dikarenakan adanya perbedaan kandungan karbohidrat dan auksin pada tiap bagian cabang. Dalam perbanyakan secara vegetatif, terbentuknya akar dan tunas mengindikasikan keberhasilan penyetekan (Sulistiana, 2013). Kemampuan stek untuk membentuk akar dan tunas bervariasi pada setiap tanaman dan hal tersebut dipengaruhi oleh kondisi fisiologis bahan stek (stock plant) terutama umur bahan stek, jenis bahan stek, dan bagian batang yang dijadikan stek di mana hal ini akan menentukan kandungan karbohidrat dan nitrogen (ratio C/N) (Weaver, 1972, dalam Siregar, 2017). Ketersediaan karbohidrat sangat menentukan dalam proses pertumbuhan tunas dan akar pada stek. Dengan adanya karbohidrat dan auksin pada tunas serta dukungan suhu yang tinggi, maka hal tersebut akan merangsang pertumbuhan akar (Abidin, 1985, dalam Pradana et al., 2018).

 

METODE PRAKTIKUM

A. Alat dan Bahan

    Alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini meliputi pisau, ember, sekop taman, dan wadah. Sedangkan bahan-bahan yang digunakan meliputi batang ubi kayu Manihot utilissima, batang ubi jalar Ipomoea batatas, daun cocor bebek Kalanchoe pinnata, daun lidah mertua Dracaena trifasciata, daun begonia Begonia sp., bawang merah yang telah dihaluskan, air, dan media tanam.


B. Prosedur Kerja

  1. Dipilih induk yang dikehendaki untuk sumber pengambilan stek.
  2. Dipilih cabang dan daun yang sehat serta tidak terlalu tua maupun muda.
  3. Daun lidah mertua dipotong sepanjang ±20 cm. Pangkal daun lidah mertua dan begonia terpilih dipotong dengan arah serong sedangkan daun cocor bebek dipotong dengan arah lurus melintang.
  4. Pangkal stek daun direndam dalam bawang merah yang telah dihaluskan.
  5. Pangkal cabang/batang ubi kayu dan ubi jalar dipotong dengan arah potong serong.
  6. Media tanam dalam ember digemburkan menggunakan sekop taman.
  7. Stek ditanam pada media dalam ember.
  8. Dilakukan pemeliharaan tanaman dan diamati pertumbuhannya.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

    Salah satu cara perbanyakan tanaman secara vegetatif adalah melalui metode stek. Dalam praktikum, dilakukan metode stek batang dan daun. Stek batang berasal dari batang ubi kayu dan ubi jalar sedangkan stek daun berasal dari tanaman lidah mertua, cocor bebek, dan begonia. Sebelum ditanam pada media, bahan stek daun terlebih dahulu dicelupkan ke dalam bawang merah yang telah dihaluskan sebagai ZPT (Zat Pengatur Alami) alami yang dapat merangsang pertumbuhan akar. Menurut Dule dan Murdaningsih (2017), menggunakan ekstrak bawang merah dalam stek bertujuan untuk merangsang akar stek. Hal ini dikarenakan kandungan auksin pada ekstrak bawang merah memiliki peran dalam pembentukan akar.

    Langkah selanjutnya, bahan stek ditanam pada media dalam ember dan dipelihara sambil diamati pertumbuhannya. Hasil praktik stek batang menunjukkan munculnya tunas-tunas kecil melalui mata tunas yang mengindikasikan terjadinya pertumbuhan. Pertumbuhan tunas ini menandakan telah terbentuknya akar sehingga tanaman dapat memperoleh nutrisi untuk pembentukan organnya. Sementara itu, praktik stek daun pada cocor bebek dan begonia tidak menunjukkan terjadinya pertumbuhan, melainkan mengalami pembusukan atau layu. Pada cocor beber, pembusukan diduga terjadi akibat infeksi jamur, ditandai oleh munculnya bercak-bercak putih pada stek. Menurut Jinus et al. (2012), penyiraman setiap hari dapat menyebabkan kondisi media terlalu lembab sehingga mendorong pertumbuhan jamur pada stek. Disebutkan oleh Hadisutrisno (2005), dalam Jinus et al. (2012), bahwa kegagalan pertumbuhan dengan persentase sebesar 50-100% pada stek disebabkan oleh jamur, yakni Fusarium oxysporum. Adapun pada begonia, diduga layu disebabkan oleh kelembapan yang terlalu sehingga menyebabkan transpirasi berlebih. Sementara itu, pada lidah mertua, hasil stek belum tampak. Hal ini dapat dikarenakan proses terbentuknya akar stek daun memiliki laju pertumbuhan yang lebih lambat.

 

DAFTAR PUSTAKA

Dewi, H., 2013. Pengaruh Air Kelapa terhadap Pertumbuhan Jeruk Besar (Citrus maxima (Burm.) Merr.) Kultivar Cikoneng secara In Vitro. Skripsi. Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati, Bandung.

 

Dule, B. & Murdaningsih, M., 2017. Penggunaan Auksin Alami sebagai Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) terhadap Pertumbuhan Stek Bibit Jambu Air (Syszygium samarangense). AGRICA, 10(2), pp.52-61.

 

Hariyadi & Anindito, A.S., 2017. Pengaruh Jenis Bahan Tanam dan Konsentrasi Rootone-F terhadap Keberhasilan Pertumbuhan Mucuna bracteata DC. Buletin Agrohorti, 5(2), pp.226-233.

 

Jinus, J., Prihastanti, E., & Haryanti, S., 2012. Pengaruh Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) Root-Up dan Super-GA terhadap Pertumbuhan Akar Stek Tanaman Jabon (Anthocephalus cadamba Miq). Jurnal Sains dan Matematika, 20(2), pp.35-40.

 

Pradani, I.C., Rianto, H., & Susilowati, Y.E., 2019. Pengaruh Macam Bahan Stek dan Konsentrasi Filtrat Bawang Merah (Allium cepa fa. ascalonicum, L.) terhadap Pertumbuhan Bibit Jambu Air (Syzygium aqueum, Burm) Varitas Citra. VIGOR: Jurnal Ilmu Pertanian Tropika dan Subtropika, 4(1), pp.24-28.

 

Rukmana R., 2000. Teknik Perbanyakan Tanaman Hias. Penerbit Kanisius, Jakarta.

 

Siregar, N. & Djam'an, D.F., 2017. Pengaruh Bagian Tunas terhadap Pertumbuhan Stek Kranji (Pongamia pinnata, Merril). Prosiding Seminar Nasional Masyarakat Biodiversitas Indonesia. Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Perbenihan Tanaman Hutan, 3(1), pp.23-27.

 

Sulistiana, S., 2013. Respon Pertumbuhan Stek Daun Lidah Mertua (Sansevieria parva) pada Pemberian Zat Pengatur Tumbuh Sintetik (Rootone-F) dan Asal Bahan Stek. Jurnal Matematika Sains dan Teknologi, 14(2), pp.107-118.

 



Tidak untuk disalin! 
Artikel ini dibagikan untuk memberi contoh dan menginspirasi:)

0 Comment:

Post a Comment

/>