Laporan Praktikum Mikrobiologi Umum: Uji Aktivitas Antimikroba

Daftar Isi

TUJUAN PRAKTIKUM

  1. Mengetahui aktivitas antimikroba dari beberapa senyawa antimikroba.
  2. Mengetahui aktivitas antimikroba dari bahan alam.

DASAR TEORI

Menurut Waluyo, dalam Widyawati (2017), antimikroba merupakan suatu zat kimia yang dibentuk dan dihasilkan oleh mikroorganisme atau organisme lainnya seperti tumbuhan di mana zat tersebut mempunyai daya penghambat aktivitas mikroorganisme meskipun dalam jumlah sedikit.
Terdapat 4 mekanisme kerja antimikroba, yakni (Hogg, 2005):
1. Menghambat sintesis dinding sel
Peptidoglikan yang menyusun dinding sel bakteri memiliki struktur yang kuat, disebabkan karena adanya rantai ikatan silang oleh enzim transpeptidase. Namun ketika senyawa beta laktam berikatan dengan sisi aktif enzim transpeptidase, hal ini akan menghambat biosintesis peptidoglikan. Pada lingkungan yang hipotonis, dinding sel yang lemah tidak dapat mencegah masuknya air ke  dalam sel, akibatnya sel bakteri akan membengkak hingga terjadi lisis. Contoh senyawa antimikroba yang mengandung beta laktam adalah penisilin.
2. Menghambat permeabilitas membran sel
Contoh senyawa antimikroba yang memiliki kemampuan menghambat permeabilitas membran sel adalah polimiksin. Polimiksin akan merusak struktur fosfolipid pada membran sitoplasma. Akibatnya bagian-bagian sel akan keluar dari dalam sel (lisis).
3. Menghambat sintesis protein
Senyawa antimikroba seperti streptomisin memiliki kemampuan untuk berikatan dengan subunit 30S pada ribosom bakteri. Hal ini akan mencegah perlekatan subunit 30S terhadap kompleks inisiasi dalam proses translasi. Akibatnya proses sintesis protein akan terhambat.
4. Menghambat sintesis asam nukleat
Rifamicin dapat menghambat kerja enzim RNA polimerase. Telah diketahui bahwa RNA polimerase merupakan enzim yang bekerja dalam proses pembentukan mRNA. Tanpa adanya mRNA, proses translasi pun tidak akan terjadi.

Adapun kandungan senyawa antimikroba dalam sampel adalah sebagai berikut:
1. Bawang putih
Kandungan senyawa aktif bawang putih adalah minyak atsiri, alkaloid, tanin, saponin, dan flavonoid. Senyawa-senyawa aktif tersebut bekerja secara sinergis sebagai antibakteri dengan menghambat proteolitik atau dengan cara merusak dinding sel dan menyebabkan lisis pada sel bakteri  (Soraya, dkk., 2018).
2. Jeruk purut
Buah jeruk purut mengandung senyawa antimikroba berupa minyak atsiri, flavonoid, dan saponin (Joko, dalam Putra, dkk., 2017). Dijelaskan bahwa flavonoid dan saponin memiliki kemampuan untuk menginaktivasi enzim pada membran sel bakteri sehingga mengakibatkan lisis (Putri, dkk., 2017).
3. Kemangi
Kandungan antimikroba dalam tanaman kemangi adalah saponin, flavonoid, tanin, dan minyak atsiri (Larasati, dalam Apriliana, 2016). Keempat senyawa tersebut bekerja dengan menghambat sintesis dinding sel bakteri (Putri, dkk., 2017).
4. Mengkudu
Kandungan senyawa aktif buah mengkudu adalah scopoletin (minyak atsiri), glikosida, dan flavonoid sebagai antibakteri. Senyawa tersebut mampu menyebabkan lisis pada dinding sel bakteri (Winarti, dalam Nonci, dkk., 2015).
5. Tapak dewa
Menurut Akowuah, dkk., dalam Tan, dkk. (2016), tapak dewa memiliki kandungan senyawa bioaktif flavonoid dan glikosida di mana senyawa tersebut memiliki kemampuan menghambat pertumbuhan mikroba.
6. Amoksisilin
Menutut Hogg (2005), kandungan beta laktam dalam amoksisilin memiliki daya hambat sintesis dinding sel bakteri. 

Berdasarkan pada Hudayanti, dalam Wuryanti, dkk. (2010), dalam pengujian kepekaan antimikroba, dapat digunakan kertas cakram dan dicelupkan ke dalam ekstrak tanaman yang akan diuji. Kertas cakram tersebut kemudian dimasukkan ke dalam cawan petri berisi media yang telah ditanami 1 ose biakan bakteri. Selanjutnya kultur diinkubasi pada suhu 37 °C selama 24 jam. Zona terang yang terbentuk di sekeliling kertas cakram diukur menggunakan penggaris dan dengan bantuan kaca pembesar.

PROSEDUR KERJA

  1. Jeruk purut diperas dan ditampung di dalam gelas kimia.
  2. Hasil perasan dimasukkan ke dalam erlenmeyer.
  3. Disiapkan bunsen dan plat tetes yang telah dilabeli.
  4. Sampel diambil menggunakan spuit steril.
  5. Sampel diteteskan ke dalam plat tetes. Prosedur diulangi untuk kelima sampel lainnya.
  6. Dimasukkan 2 buah paper disk ke dalam tiap sampel.
  7. Setelah 15 menit, paper disk diletakkan di atas permukaan media bakteri Salmonella dan Staphylococcus. Diatur sedemikian rupa pada kedua media.
  8. Setelah dibungkus dengan wrap plastic, media diinkubasi selama 1 × 24 jam. 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Dalam praktikum daya kerja antimikroba, digunakan bahan-bahan alami yang diyakini memiliki kemampuan dalam menghambat aktivitas bakteri. Bahan-bahan tersebut terdiri dari kemangi, mengkudu, bawang putih, jeruk purut, dan tapak dewa. Adapun amoksisilin digunakan sebagai kontrol positif dalam pengujian. Dari hasil praktikum terhadap bakteri Salmonella, didapatkan diameter zona hambat pada kemangi, mengkudu, bawang putih, jeruk purut, tapak dewa, dan kontrol positif secara berturut-turut adalah 0 mm, 0 mm, 20,5 mm, 11 mm, 0 mm, dan 21 mm. Sedangkan terhadap bakteri Staphylococcus secara berturut-turut didapatkan besar diameter zona hambatan adalah 0 mm, 0 mm, 34 mm, 21 mm, 0 mm, dan 25,5 mm.
Dari data yang telah dipaparkan, tampak bahwa pada kedua media, ketiga sampel yakni kemangi, mengkudu, dan tapak dewa tidak menunjukkan adanya aktivitas daya hambat terhadap kedua bakteri uji. Hasil tersebut tidak sesuai dengan literatur hasil penelitian sebelumnya di mana ketiga sampel tersebut memiliki kandungan antimikroba seperti flavonoid dan saponin yang dapat menghambat sintesis dan integritas dinding sel bakteri. Sementara itu, sampel bawang putih dan jeruk purut menjalankan aktivitas antimikrobanya terhadap kedua jenis bakteri. Hal ini ditandai dengan terbentuknya zona bening di sekitar paper disk setelah inkubasi. Hasil tersebut telah sesuai dengan literatur yang telah dijelaskan sebelumnya di mana bawang putih dan jeruk purut memiliki kandungan minyak atsiri, flavonoid, dan saponin (Soraya, dkk., 2018 dan Joko, dkk., dalam Putra, dkk., 2017). Ketiga senyawa tersebut memiliki kemampuan untuk menginaktivasi enzim pada membran sel bakteri sehingga mengakibatkan lisis sel. Adapun dari kedua sampel, bawang putih memiliki diameter zona hambat yang lebih besar dibanding jeruk nipis, mengindikasikan bahwa kemampuan menghambat antimikroba ekstrak bawang putih bekerja lebih efektif. Hal ini dapat dipengaruhi oleh kandungan senyawa aktif di dalam bawang putih yang lebih kompleks dibandingkan pada jeruk purut.

DAFTAR PUSTAKA

Hogg, S., 2005. Essential Microbiology. John Wiley and Sons, Inc., Chichester.

 

Nonci, F.Y., Rusli, R., dan Jumatia, J., 2015. Uji Efektivitas Antibakteri Sari Buah Mengkudu (Morinda citrifolia) Asal Makassar pada Daging Sapi. Jurnal Farmasi UIN Alauddin Makassar, 3(1), pp.17-21.

 

Putra, R.E.D., Homenta, H., & Wowor, V.N.S., 2017. Uji Daya Hambat Perasan Buah Jeruk Purut Citrus hyrix terhadap Bakteri Staphylococcus aureus secara In Vitro. Jurnal Ilmiah Farmasi-UNSRAT, 6, pp.62-67.

 

Putri, R., Mursiti, S., & Sumarni, W., 2017. Aktivitas Antibakteri Kombinasi Temu Putih dan Temulawak terhadap Streptococcus mutans. Indonesian Journal of Mathematics and Natural Sciences, 40(1), pp.43-47.

 

Soraya, C., Chismirina, S., & Novita, R., 2018. Pengaruh Perasan Bawang Putih (Allium sativum L.) sebagai Bahan Irigasi Saluran Akar dalam Menghambat Pertumbuhan Enterococcus faecalis secara In Vitro. Cakradonya Dental Journal, 10(1), pp.1-9.

 

Tan, H.L., Chan, K.G., Pusparajah, P., Lee, L.H., & Goh, B.H., 2016. Gynura procumbens: An Overview of the Biological Activities. Frontiers in Pharmacology, 7, p.52.

 

Widyawati, A.A., 2017. Uji Daya Antimikroba Berbagai Konsentrasi Ekstrak Daun dan Buah Tamarindus indica terhadap Diameter Zona Hambat Pertumbuhan Bakteri Staphylococcus aureus (Dikembangkan Menjadi Buku Saku Materi Kingdom Monera Untuk Siswa SMA Kelas X). Skripsi. Universitas Muhammadiyah Malang, Malang.

 

Wuryanti, W., Mulyani, N.S., Asy'ari, M., & Sarjono, P.R., 2010. Uji Ekstrak Bawang Bombay sebagai Anti Bakteri Gram Positif Staphylococcus aureus dengan Metode Difusi Cakram. BIOMA: Berkala Ilmiah Biologi, 12(2), pp.68-72.




Tidak untuk disalin! 

Artikel ini dibagikan untuk memberi contoh dan menginspirasi:)

0 Comment:

Post a Comment

/>